hukum kirchoff arus dan tegangan

Pengertian dan Bunyi Hukum Kirchhoff

Hukum Kirchhoff  merupakan Hukum Kirchhoff yang berkaitan dengan dengan arah arus dalam menghadapi titik percabangan. Hukum Kirchhoff 1 ini sering disebut juga dengan Hukum Arus Kirchhoff atau Kirchhoff’s Current Law(KCL).

Bunyi Hukum Kirchhoff  adalah sebagai berikut :

“Arus Total yang masuk melalui suatu titik percabangan dalam suatu rangkaian listrik sama dengan arus total yang keluar dari titik percabangan tersebut.”

Untuk lebih jelas mengenai Bunyi Hukum Kicrhhoff 1, silakan lihat rumus dan rangkaian sederhana dibawah ini :Hukum Kirchhoff 1

Berdasarkan Rangkaian diatas, dapat dirumuskan bahwa :

I1 + I2 + I3 = I4 + I5 + I6

Contoh Soal Hukum Kirchhoff 1Contoh soal Hukum Kirchhoff

Dari rangkaian diatas, diketahui bahwa

I1 = 5A
I2 = 1A
I3 = 2A

Berapakah I4 (arus yang mengalir pada AB) ?

Penyelesaian :

Dari gambar rangkaian yang diberikan diatas, belum diketahui apakah arus I4 adalah arus masuk atau keluar. Oleh karena itu, kita perlu membuat asumsi awal, misalnya kita mengasumsikan arus pada I4 adalah arus keluar.

Jadi arus yang masuk adalah :

I2 + I3 = 1 + 2 = 3A

Arus yang keluar adalah :
I1 + I4 = 5 + I4
3 = 5 + I4
I4 = 3 – 5
I4 = -2

Karena nilai yang didapatkan adalah nilai negatif, ini berbeda dengan asumsi kita sebelumnya, berarti arus I4 yang sebenarnya adalah arus masuk.

 

Prioritas K3

Pengendalian Operasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Tempat Kerja

Prioritas pengendalian operasi ditujukan pada pilihan pengendalian yang memiliki tingkat kehandalan tinggi selaras dengan hierarki pengendalian resiko/bahaya K3 di tempat kerja.

Pengendalian operasi akan diterapkan dan dievaluasi secara bersamaan untuk mengetahui tingkat keefektivan dari pengendalian operasi serta terintegrasi (tergabung) dengan keseluruhan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan.

Beberapa pengendalian operasi K3 Perusahaan mencakup antara lain:

  1. Umum :
    • Perawatan dan perbaikan fasilitas/mesin/alat reguler.
    • Kebersihan dan perawatan tempat kerja.
    • Pengaturan lalu lintas manusia/barang, dsb.
    • Pemasokan dan Perawatan Fasilitas Kerja/Fasilitas Umum.
    • Perawatan suhu lingkungan kerja.
    • Perawatan sistem ventilasi dan sistem instalasi listrik.
    • Perawatan sarana tanggap darurat.
    • Kebijakan terkait dinas luar, intimidasi, pelecehan, penggunaan obat-obatan dan alkohol.
    • Program-program kesehatan dan pengobatan umum.
    • Program pelatihan dan pengembangan pengetahuan.
    • Pengendalian akses tempat kerja.
  2. Pekerjaan Bahaya Tinggi :
    • Penggunaan prosedur, instruksi kerja dan cara kerja aman.
    • Penggunaan peralatan/mesin yang tepat.
    • Sertifikasi pelatihan tenaga kerja keahlian khusus.
    • Penggunaan izin kerja.
    • Prosedur pengendalian akses keluar masuk tenaga kerja di tempat kerja bahaya tinggi.
    • Pengendalian untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
  3. Penggunaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) :
    • Pembatasan area-area penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di tempat kerja.
    • Pengamanan pemasokan dan pengendalian akses keluar masuk penyimpanan bahan berbahaya dan beracun (B3).
    • Barikade sumber radiasi.
    • Isolasi pencemaran biologis.
    • Pengetahuan penggunaan dan ketersediaan perlengkapan darurat.
  4. Pembelian Barang, Peralatan dan Jasa :
    • Menyusun persyaratan pembelian barang, peralatan dan jasa.
    • Komunikasi persyaratan pembelian barang kepada pemasok.
    • Persyaratan transportasi/pengiriman bahan berbahaya dan beracun (B3).
    • Seleksi dan penilaian pemasok.
    • Pemeriksaan penerimaan barang/peralatan/jasa.
  5. Kontraktor :
    • Kriteria pemilihan kontraktor.
    • Komunikasi persyaratan kepada kontraktor.
    • Evaluasi dan penilaian kinerja K3 berkala.
  6. Tamu, Pengunjung dan Pihak Luar :
    • Pengendalian akses masuk.
    • Pengetahuan dan kemampuan mengenai izin penggunaan peralatan/perlengkapan/mesin/material di tempat kerja.
    • Penyediaan pelatihan/induksi yang diperlukan.
    • Pengendalian administratif rambu dan tanda bahaya di tempat kerja.
    • Cara pemantauan perilaku dan pengawasan aktivitas di tempat kerja.

Penetapan kriteria operasi K3 Perusahaan mencakup beberapa hal sebagai berikut :

  1. Pekerjaan Bahaya Tinggi :
    • Penggunaan peralatan/perlengkapan yang telah ditentukan beserta prosedur/instuksi kerja penggunaannya.
    • Persyaratan kompetensi keahlian.
    • Petunjuk individu mengenai penilaian resiko terhadap kejadian yang muncul tiba-tiba dalam pekerjaan.
  2. Penggunaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) :
    • Daftar bahan berbahaya dan beracun (B3) yang disetujui.
    • Penentuan Nilai Ambang Batas (NAB).
    • Penentuan Nilai Ambang Kuantitas (NAK).
    • Penentuan lokasi dan kondisi penyimpanan.
  3. Area Kerja Bahaya Tinggi :
    • Penentuan APD (Alat Pelindung Diri).
    • Penentuan persyaratan masuk.
    • Penentuan persyaratan kondisi kesehatan/kebugaran.
  4. Kontraktor :
    • Persyaratan kriteria kinerja K3.
    • Persyaratan pelatihan maupun kompetensi keahlian terhadap personel di bawah kendali kontraktor.
    • Persyaratan pemeriksaan peralatan/perlengkapan/bahan/material kontraktor.
  5. Tamu, Pengunjung dan Pihak Luar :

10 Besaran Listrik Beserta Definisi,Satuan,dan Lambang

10 Besaran Listrik Beserta Definisi, Satuan dan Lambang

 

No Nama Besaran Definisi Satuan Lambang
1 Tegangan listrik Tegangan listrik adalah perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt Volt V
2 Arus listrik Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Ampere I
3 Hambatan listrik Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Ohm
4 Konduktansi Konduktansi adalah kemampuan suatu benda menghantarkan arus listrik dari suatu bahan. Siemens G
5 Kapasitansi Kapasitansi adalah kemampuan suatu benda atau sistem benda untuk menyimpan muatan listrik. Farad F
6 Muatan listrik Muatan listrik adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda, yang membuatnya mengalami gaya` pada benda lain yang berdekatan dan juga memiliki muatan listrik. Simbol Q sering digunakan untuk menggambarkan muatan. Coulomb C
7 Induktansi Induktansi adalah sifat dari rangkaian elektronika yang menyebabkan timbulnya potensial listrik secara proporsional terhadap arus yang mengalir pada rangkaian tersebut, sifat ini disebut sebagai induktansi sendiri, sedangkan apabila potensial listrik dalam suatu rangkaian ditimbulkan oleh perubahan arus dari rangkaian lain disebut sebagai induktansi bersama. Henry H
8 Daya listrik Daya listrik adalah besarnya energi yang mengalir atau diserap alat tiap detik. Daya juga dapat didefinisikan sebagai laju aliran energi. Watt W
9 Impedansi Impedansi listrik, atau lebih sering disebut impedansi, menjelaskan ukuran penolakan terhadap arus bolak-balik sinusoid. Impedansi listrik memperluas konsep resistansi listrik ke sirkuit AC, menjelaskan tidak hanya amplitudo relatif dari tegangan dan arus, tetapi juga fase relatif. Ohm
10 Frekuensi Frekuensi adalah ukuran jumlah putaran ulang per peristiwa dalam satuan waktu yang diberikan. Hertz Hz

Ruang lingkup pekerjaan lisrik

Instalasi Listrik

SISI PEMBANGKIT

Pembangkit adalah bagian awal . hulu dari ruang lingkup pekerjaan listrik . pembangkit listrik di Indonesia sebagian besar menggunakan potensi alam sebagai penggerak mulanya di dalam pembangkit terdapat bagian penting yang disebut generator pada prinsipnya . Generator adalah peralatan listrik yang merubah energi mekanis menjadi energi listrik

Energi mekanik diperoleh dari memanfaatkan potensi alam sebagai penggerak mulanya . contoh potensi alam , air , sungai , angin , cahaya matahari , ombak , panas bumi . Namun ada juga pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar sebagai penggerak mulanya . contohnya batu bara dan solar .

1.PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)

PLTA Gajah Mungkur Wonogiri 3×12,4 mega watt

PLTA Karang Katas 3×12,4 watt

2.PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)

PLTU Paiton

PLTU Suralaya

4×400 mega watt

3×600 mega watt

3.Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

4.Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

5.Pembangkit Listrik Tenaga Surya

6.Pembangkit Listrik Tenaga Angin

7.Pembangkit Listrik Tenaga Bio Masa

 

SISI TRANSMISI

Aliran listrik dari pembangkit akan dikirimkan menuju kota-kota . Sebelum dikirimkan ke kota-kota tujuanya listrik dinaikan teganganya berkali kali lipat dengan travo step up . Travo step up terletak pada out put pembangkit listrik . Tegangan listrik dinaikan berkali kali lipat agar tidak terjadi loss tegangan (kehilangan tegangan) pada saat dikirimkan ke kota-kota  (GI) yang jaraknya mencapai ratusan kilo meter .

Instalasi sistem transmisi berupa menara yang disebut :

SUTET (Saluran Udara Tegangan Exstra Tinggi)

Range teganganya yaitu 150 kv – 350 kv . Sistem jaringan sutet terdiri  dari 4 penghantar yaitu : paling atas pada menara yaitu N Netral sedangkan 3 dibawahnya  yaitu fase R , S , T.

Pada instalasi sutet  penghantarnya sering menggunakan sistem double sirkuit .  Pada instalasi sutet netralnya juga menggunakan  BUMI sebagai penghantarnya , sehingga penghantar N Netral selalu digroundingkan/dibumikan baik netral yang ada di pembangkit , transmisi , Gi , dll .

 

SISI DISTRIBUSI

Sesuai arti katanya distribusi berarti membagi dan menyalurkan listrik dari pembangkit menuju ke konsumen . Didalam sisi distribusi instalasinya berupa Gardu Induk dan Jaringan Tegangan Menengah .

 

 

Gardu Induk (GI)

Gardu induk adalah gardu unit pusat beban yang merupakan gabungan dari tranformator trafo step up / trafo step down . Rangkaian switch gear (hubung bagi) dalam satu kesatuan sehingga bisa dilakukan kontrol , pengukuran , perbaikan .

Pada dasarnya :

– gardu induk bekerja merubah tegangan yang dibangkitkan menjadi tegangan tinggi

– gardu induk bekerja merubah tegangan ekstra tinggi menjadi tegangan menengah

– gardu induk sebagai pusat pengukuran pusat pengawasan operasional

– gardu induk sebagai pusat pengaturan beban

Selain instalasi GI dalam sistem distribusi yang juga terdapat 20 kv – 60 kv . Instalasi menengah berupa tiang beton yang dilengkapi dengan isolasi keramik , saklar cutt off , transformator / trafo TM , gardu distribusi / switch gear / PHB papan hubung bagi . Instalasi tegangan menengah berfungsi menyalurkan listrik dari GI menuju ke gardu distribusi / penyulang .

SISI PEMANFAATAN

Sisi pemanfaatan tenaga listrik diawali dari output trafo TM menuju ke gardu distribusi LVMDP (Low Voltage Medium Distribusi Panel) dan menuju ke jaringan tenaga rendah . Pada jaringan tenaga rendah (JTR) range tegangan adalah 380 v antar fashe dan 220 v fashe netral . Instalasi JTR berupa : tiang beton , tiang besi , strain clamp , kabel TIC twisted insulapead cable , menuju ke konsumen-konsumen . Instalasi JTR  pada konsumen diawali dari penyulang / feader JTR , kabel TIC , APP alat pengukuran dan pembangkit berupa kwh meter dan mcb , PHB (Papan Hubung Bagi) berupa boxsekreng / box MCB , sirkuit percabangan hingga ke antar kota-kota akhir .